Laman

Kamis, 31 Desember 2015

Memori: Bualan Sang Mahasiswa

Malang, Agustus 2012

Layaknya bayi yang baru pertama lahir, ia menangis karena tidak tahu dunia baru seperti apa. Namun kawanku yang satu ini, Risman Widodo atau yang akrab dipanggil Wiwid di Kekalik, dan Bung Risman di Malang Raya punya cerita yang mengagumkan.

Buntu, itulah kata pertama saya tentang Kota Malang. Pengetahuan yang sempit tentang kota ini, membuat saya banyak bertanya kepadanya. Maklum ia lebih dulu mengadu nasib dan berjuang disini. Memori flashback membuat saya memutar kembali memori konyol tentang bualan mahasiswa kepada seorang maba yang sedang buta.

Waktu itu, Juni bulan 2012. Ia tiba di lombok dengan sejuta cerita. Status saya waktu itu sudah diterima di Universitas Brawijaya Malang. Ia bercerita dan menghipnotis saya, kamu yang waktu itu sebagai maba, pasti bisa percaya atau tidak dengan apa yang dibualkannya. Baru satu tahun mengalami asam garam kehidupan, baik kehidupan cinta atau politik di dunia mahasiswa, dia melakukan klaim bahwa kalau mau sukses di Malang, kamu harus bisa bahasa Jawa. Mutlak dan memang begitu adanya. Walau pada kenyataannya, orang Jakarta masih tetap pakai Loe Gue di kehidupan mereka. Plisss deh.

Terus - terus, dia bilang kalau di Malang, Orang Jawa pacarannya dengan sesama Jawa. Kalaupun dapat, itu harus butuh ekstra perjuangan. Di kemudian hari, nanti saya ceritakan kisah saya tentang jatuh cinta kepada perempuan Jawa. Ya saya percaya saja, maklum masih maba. 

Kembali ke Agustus 2012, akhirnya saya tiba di Kota Malang. Sekilas, kota ini mirip dengan daerah Cakranegara dan Mataram. Masuk kesini, ikut ospek, ikut kelas, buntu dan tidak mengenal siapa mereka semua. But, hidup harus terus berjalan.

Wiwid kemudian cerita tentang Badan Eksekutif Mahasiswa kepada saya. Katanya BEM itu penuh intrik licik atau bohong dan penuh bualan. Itu ada sebabnya, Wiwid dijanjikan nilai bagus bila ia mengikuti seluruh kegiatan rapat. Sialnya, ia tidak dapat itu semua, nilainya anjlok. Wiwid adalah seorang pekerja keras, namun ia begitu boros. Ia bercerita pernah jadi seorang asisten praktikum, dengan kemampuan renangnya yg sangat super. Ia diangkat menjadi asisten yg digaji 1.500.000 rupiah/semester, ntah benar atau tidak.

Ia banyak cerita tentang Malang dan Brawijaya, Rasis adalah kata favoritnya ketika itu. Di Fakultasnya sendiri, ia cukup terkenal, disegani dan dihormati oleh adek tingkat maupun teman seangkatannya, tapi ya beberapa. Hah, perkataan perkataan hampir mendekati membual itu , membuat saya tidak percaya , tapi akhirnya saya percaya terutama masalah BEM.

Waktu maba, ia juga cerita Omek di kampus ini. Pembicaraan kita tentang omek yang membuat saya ingin tahu banyak dan tak ragu untuk mencari tahu lebih banyak. Maklum dulu omek adalah organisasi terlarang, hingga sekarang. hehe

Walaupun begitu, Wiwid tetaplah wiwid, ia menatap harinya yg cerah dan tetap optimis akan masa depannya.

"Bisa bekerja di salah satu perusahaan bidang perikanan terbesar di Indonesia adalah suatu yang menyenangkan, karena HIDUP ITU SIMPEL BRO "
Risman Widodo - 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar